Pertanian Organik ala Cipta Mandiri


Pertanian Organik ala Cipta Mandiri

Pertanian organik adalah sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Beberapa tanaman Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dengan sistem pertanian organik tersebut adalah padi, hortikultura sayuran dan buah (contohnya: brokoli, kubis merah, jeruk, dan sejenisnya.), tanaman perkebunan (kopi, teh, kelapa, dan sejenisnya.), dan rempah-rempah.

Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan.

Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Pertanian organik juga harus memperhatikan keadilan baik antar manusia maupun dengan makhluk hidup lain. Untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia, baik pada masa kini maupun pada masa depan.

Pertanian organik sebenarnya sudah menjadi perhatian Pemerintah Indonesia sejak 2001. Inistiatif ini tumbuh seiring kemunculan produk-produk organik, yang diindikasikan dengan tumbuhnya permintaan. Kecenderungan ini diikuti perkembangan lahan pertanian organik yang cukup signifikan di Indonesia.

Departemen Pertanian pun pernah meluncurkan program “Go Organic 2010”. Akan tetapi perkembangan program tersebut dinilai tidak menggembirakan. Hambatan klasik bagi petani adalah pasar, kurangnya minat konsumen, dan kurangnya jaringan dengan perusahaan-perusahaan swasta.

kelompok-tani-cipta-mandiri

Kang Asep bersama Raisa Andriana

kelompok-tani-cipta-mandiri

Meninjau Office Farm bersama Ridwan Kamil

kelompok-tani-cipta-mandiri

Meninjau dan Merawat Kebun

kelompok-tani-cipta-mandiri

Merawat Kebun

Sistem pertanian organik sudah mulai diimplementasikan di wilayah Desa Ciburial. Kelompok tani di wilayah Kampung Cibengang adalah salah satu yang mengupayakan sistem pertanian organik tersebut. Hasil pertanian organik tersebut, terutama sayuran dan herbal (tanaman obat), bisa dikatakan sudah mulai berpihak pada para petani.

Ketua Kelompok Tani Cipta Mandiri, Adang Parman (53), mengatakan, baru sekitar dua tahun ini petani dapat merasakan hasil jerih payahnya menjual sayuran organik.

Ada sekitar 17 orang yang mengelola tanah pertanian pada Kelompok Tani Cipta Mandiri. Empat di antaranya mengelola sayuran organik. Salah satunya Asep, yang menggarap tanah untuk ditanami herbal. Berbagai sayuran organik ditanam, seperti Bayam korea, Bayam jepang, Jabung, Siomak, Lettuce, dan Salada Merah.

Bekerja sama dengan salah satu komunitas di Bandung, sayuran tersebut dijual seharga Rp20.000 per kilogram. Dipotong Rp8 ribu sebagai ongkos kirim. Satu orang petani mendapat jatah satu kilogram dengan empat hingga lima macam sayuran.

karnaval-kelompok-tani-cipta-mandiri

Partisipasi pada Karnaval Hasil Bumi

learning-camp-tani-cipta-mandiri

Eco Farming Learning Camp

drop-tani-cipta-mandiri

Siap Meluncur menuju Drop Point

bibit-kelompok-tani-cipta-mandiri

Pertumbuhan Bibit

“Ada 15 macam semuanya. Tiap minggu berubah supaya tidak jenuh yang mengkonsumsinya,” jelas Adang.

Konsumen dari komunitas tersebut akan mendapat kiriman dua kali dalam satu minggu pascapanen, yakni hari Senin dan Kamis. Selain itu, sayuran tersebut juga dipasok ke salah satu toko swalayan di Kota Bandung.

“Pengiriman langsung pakai colt buntung (mobil jenis pick-up)” ucap Adang.

Tak hanya menyasar Bandung, kelompok tani Cipta Mandiri juga menjual sayuran organik hingga ke Jakarta. Dalam seminggu dikirim sekitar 12 kilogram sayuran. “Sedang percobaan dan sudah empat minggu jalan. Satu kilonya Rp75 ribu,” katanya.

Adang mengaku mempelajari usaha pertanian organik dari Bumi Langit Institute di Yogyakarta. Seiring tren masyarakat yang menginginkan makanan yang bersih dan sehat, ia pun mengembangkannya di Desa Ciburial.

“Bapak dulu sama tim yang lain praktik di Yogyakarta. Di sana, herbalnya beneran. Makan tidak ada rasa apa-apa, dan menanam tidak hanya di tanah, tapi juga di batu. Nah, pulang dari sana kemudian coba dikembangkan,” jelas Adang.

Meski begitu, Adang mengaku sudah terlebih dulu mempelajari persoalan hama, baik yang menyerang tanaman organik maupun non organik. Sejak 2002 ia tidak menggunakan bahan kimia untuk membasmi hama.

“Pengobatannya cukup pakai bawang merah, bawang putih dan pedas diblender. Airnya diperas, lalu satu gelas dicampur air 15 liter kemudian disemprotkan ke kebun. Ada ulat, kutu, dan segala macam hama tidak mati tapi pusing,” jelasnya.

Untuk memastikan tanaman benar-benar organik, Adang bersedia menguji tanah dan hasil panennya di laboratorium, bekerja sama dengan kedokteran pangan. Sayuran organik miliknya juga memiliki khasiat yang layak diketahui konsumen.

Sementara, bibit sayuran ia dapatkan dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Namun untuk bibit langka seperti Lettuce (selada bokor) harus diimpor, salah satunya dari Tiongkok. “Yang tidak bisa dibibitkan di sini, jadi didatangkan dari luar negeri. Biasanya bibit itu untuk stok satu tahun,” ujar Adang.

Dengan kebiasaan menanam sayuran organik, Adang kini mengaku lebih lega. Pasalnya, ia tidak lagi merugi seperti dulu.

office-farming-kelompok-tani-cipta-mandiri

Office Farming Bank Indonesia

pagoda-kelompok-tani-cipta-mandiri

Pagoda

selada-kelompok-tani-cipta-mandiri

Merawat Selada

panen-kelompok-tani-cipta-mandiri

Pak Adang sedang panen bayam

“Saya pindah ke organik karena dulu rugi terus. Setelah rugi lalu berhenti, dan pindah ke organik. Biarpun panennya cepat dan melelahkan tapi hasilnya puas karena ada kontrak (kesepakatan) dengan pembeli,” pungkas Adang. ***

Informasi Terkait:


Tentang Desa Ciburial

Desa Ciburial merupakan salah satu desa di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Desa ini merupakan desa yang berada paling utara di Kabupaten Bandung. Berbatasan langsung dengan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *