Urun Rembuk Sesar Lembang : Hidup Harmoni di Kawasan Rawan Gempa

Urun Rembuk Sesar Lembang : Hidup Harmoni di Kawasan Rawan Gempa

Urun Rembuk Sesar Lembang : Hidup Harmoni di Kawasan Rawan GempaKeluarga Besar Ikatan Alumni Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadajaran (Unpad) Bandung menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kebencanaan bertajuk “Urun Rembuk Sesar Lembang : Hidup Harmoni di Kawasan Rawan Gempa Khususnya Area Sesar Lembang”, di Auditorium Museum Geologi Bandung, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (27/10/2018). 

Kegiatan sosialisasi kebencanaan ini diselenggarakan dalam rangka rangkaian acara 60 Tahun Geologi Unpad pada tahun 2018. Peserta kegiatan meliputi perwakilan dari pemerintahan setempat, komunitas geologi, pemerhati kebencanaan, pelajar, mahasiswa,dan masyarakat lainnya.

Adapun yang menjadi Pembicara (narasumber) pada kegiatan sosilisasi kebencanaan ini, yaitu (1) Awang Harun Satyana (Geolog Indonesia, Geotrek Indonesia, SKK Migas), dan (2) Asdani Soehaimi (Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral).

Dekan Fakultas Teknik Geologi Unpad, Vijaya Isnaniawardhani, mengatakan, acara tersebut diselenggarakan bermaksud untuk menyampaikan informasi yang nyata, namun menenangkan kepada masyarakat.

“Kami ingin menyampaikan ini untuk menenangkan masyarakat,” ujar Vijaya Isnaniawardhani.

Ketua IKA Geologi Unpad sekaligus Kepala Badan Geologi ESDM, Rudy Suhendar, juga mengatakan hal yang sama.

Dia berharap, informasi yang disampaikan oleh narasumber, yaitu oleh Ir. Awang Harun Satyana dan Ir. Asdani Soehaimi, dapat memberikan pencerahan dan membuat tenang masyarakat, di tengah maraknya informasi dari berbagai media.

“Kami harapkan bukan menghindar, tapi tenang harmoni di kawasan tersebut. Kami ingin mentrasformasikan informasi kepada masyarakat dengan cara menenangkan, demi keselamatan, bukan menakut-nakuti,” ujar Rudy Suhendar.

Rudy menjelaskan, Sesar Lembang sejauh ini masih dalam keadaan aman, hanya saja tetap harus bertindak waspada.

Kendati kejadian dan kerentanan yang terjadi di setiap daerah sama, namun karakteristiknya berbeda.

Rudy mengimbau kepada masyakat untuk paham karakter dan tidak resah dengan informasi karya ilmiah para ahli.

“Temuan-temuan para ahli merupakan dinamis berkelanjutan, dan akan terus dipelajari,” ujarnya. ***

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: